Aku tak tahu apa yang kurasakan. Ku buka lembaran baru setelah ku robek lembaran lama. Tapi aku tak tau apakah robekan tersebut akan membara lagi? akupun tak tahu. Aku rasa aku tak kan pernah ingin itu. Karena hidupku untuk masa depanku.
Saat ku tatap matanya, ada suatu rasa yang berbeda. Entah apa yang kurasakan, jujur itu sama sekali tak pernah kurasakan.
Diawali ketika kulihat followers twitterku ada namanya. Saat ku buka twitternya memang tertutup, tapi biodatannya yang membuatku penasaran. Hanya berawal dari rasa itu. Ku masih penasaran dengannya, berusaha ku mencarinya lewat facebook. dengan diawali kata Hallo pada chat facebook, kita berbincang-bincang, hal biasa yang kami perbincangkan, tidaklah berat. sebuah hal umum yang diperbincangkan. sebenarnya aku dan dia adalah teman satu SMA, tapi beda kelas, aku tau dia dan dia tau aku.
Dia kuliah jurusan pendidikan bahasa inggris di salah satu universitas negeri di surabaya, dia bercerita bahwa dia mengajari les bahasa inggris. kebetulan aku juga terbiasa mengajar musik, aku bilang ke dia kalau siapa tau muridnya mau les musik. aku pun meminta nomor handphonenya, dan akhirnya dia berikan. tak pernah berkata ada murid yang mau les. hanya saja dia menawarkan diri untuk mau les musik. aku mau dengan sarat dia mengajariku bahasa inggris.
jam 10.00
aku berangkat menuju rumahnya, untuk menjemputnya. hatiku berdebar, karena sebetulnya saat proses smsan aku merasa kalau aku suka sama dia. karena aku orang yang mudah suka orang lain. sampai dirumahnya, tak tau apa yang harus di kata, aku bener-bener grogi, bingung, canggung. tak biasanya aku begini. sering aku kerumah anak cewek, tapi aku tak pernah seperti ini.
jam 10.30
kami berangkat menuju lapangan kodikaal. di perjalanan kami ngobrol banyak, ada perasaan aneh saat kita berdua ngobrol. aku tak tau apa itu. tapi aneh aja. perasaan ku bercampur aduk, perasaan suka itu hilang. ada perasaan takut dia dimiliki orang lain, ada perasaan takut menyakitinya ada perasaan grogi.
10 menit kemudian
kami tiba, aku takut dimarai orang sana, tapi dia bilang kalau bapaknya ya anggota tni, sedikit lega. kita mulai les musiknya. alasannya membawa ku kesana adalah karena di malu kalau nyanyi dirumah, dan pada saat itu neneknya mau keluar kerumah saudaranya, dia tinggal berdua dengan neneknya, karena orang tuanya sedang di jakarta ada tugas.
aku mulai mengajarinya beberap kunci gitar, kemudian kusuruh dia memainkan kunci dengan perintahku dan kusuruh dia bernyanyi, karena yang kuajarkan adalah lagu yang di requestnya. lama-lama dia sedikit lancar, kami disana ngobrol banyak, saat itu kulihat wajahnya, ya Allah aku bingung harus ngomong apa, apakah aku sayang sama dia? apakah harus secepat ini?
jam 12.00
sesuai perjanjian, 1 jam les musik 1 jam les b.ing. dia berkata demikian, aku sendiri lupa sama itu. dia mengajariku dengan conversation aku merasa malu karena kalah dengan dia. hanya 15 menit kami belajar, sisa waktu kami habiskan untuk mengobrol. dia tetap belajar gitar sambil nyanyi, sengaja kuliat dia pas nyanyi, perasaan itu timbul lagi. aku membuka-buka buku yang dibawanya, tak sengaja aku melihat lirik lagu yang ia buat, dia puitis, dibalik keceriaannya tersimpan semangat membara yang di milikinya ketika ingin mencapai sesuatu, di buku itu banyak quote2 yang di buatnya. aku bertanya apa ini? dia menjawab ini hasil karyaku, setiap kata darinya membuatku semakin sayang sama dia, aku takut dia akan membenciku saat aku mengatakannya. dan aku berpikir pasti terlalu cepat. dia memamerkan suaranya yang lembut. Ya Allah apakah secepat ini?
jam 02.00
kami menyudahi bimbingan ini, kami mencari masjid untuk sholat, setelah itu aku mengajaknya makan bakso, dia suka bakso, sangat suka, setelah makan aku mengantarnya pulang, rasanya tak pernah ingin berpisah. apakah harus secepat ini aku menyayanginya?
Saat ku tatap matanya, ada suatu rasa yang berbeda. Entah apa yang kurasakan, jujur itu sama sekali tak pernah kurasakan.
Diawali ketika kulihat followers twitterku ada namanya. Saat ku buka twitternya memang tertutup, tapi biodatannya yang membuatku penasaran. Hanya berawal dari rasa itu. Ku masih penasaran dengannya, berusaha ku mencarinya lewat facebook. dengan diawali kata Hallo pada chat facebook, kita berbincang-bincang, hal biasa yang kami perbincangkan, tidaklah berat. sebuah hal umum yang diperbincangkan. sebenarnya aku dan dia adalah teman satu SMA, tapi beda kelas, aku tau dia dan dia tau aku.
Dia kuliah jurusan pendidikan bahasa inggris di salah satu universitas negeri di surabaya, dia bercerita bahwa dia mengajari les bahasa inggris. kebetulan aku juga terbiasa mengajar musik, aku bilang ke dia kalau siapa tau muridnya mau les musik. aku pun meminta nomor handphonenya, dan akhirnya dia berikan. tak pernah berkata ada murid yang mau les. hanya saja dia menawarkan diri untuk mau les musik. aku mau dengan sarat dia mengajariku bahasa inggris.
jam 10.00
aku berangkat menuju rumahnya, untuk menjemputnya. hatiku berdebar, karena sebetulnya saat proses smsan aku merasa kalau aku suka sama dia. karena aku orang yang mudah suka orang lain. sampai dirumahnya, tak tau apa yang harus di kata, aku bener-bener grogi, bingung, canggung. tak biasanya aku begini. sering aku kerumah anak cewek, tapi aku tak pernah seperti ini.
jam 10.30
kami berangkat menuju lapangan kodikaal. di perjalanan kami ngobrol banyak, ada perasaan aneh saat kita berdua ngobrol. aku tak tau apa itu. tapi aneh aja. perasaan ku bercampur aduk, perasaan suka itu hilang. ada perasaan takut dia dimiliki orang lain, ada perasaan takut menyakitinya ada perasaan grogi.
10 menit kemudian
kami tiba, aku takut dimarai orang sana, tapi dia bilang kalau bapaknya ya anggota tni, sedikit lega. kita mulai les musiknya. alasannya membawa ku kesana adalah karena di malu kalau nyanyi dirumah, dan pada saat itu neneknya mau keluar kerumah saudaranya, dia tinggal berdua dengan neneknya, karena orang tuanya sedang di jakarta ada tugas.
aku mulai mengajarinya beberap kunci gitar, kemudian kusuruh dia memainkan kunci dengan perintahku dan kusuruh dia bernyanyi, karena yang kuajarkan adalah lagu yang di requestnya. lama-lama dia sedikit lancar, kami disana ngobrol banyak, saat itu kulihat wajahnya, ya Allah aku bingung harus ngomong apa, apakah aku sayang sama dia? apakah harus secepat ini?
jam 12.00
sesuai perjanjian, 1 jam les musik 1 jam les b.ing. dia berkata demikian, aku sendiri lupa sama itu. dia mengajariku dengan conversation aku merasa malu karena kalah dengan dia. hanya 15 menit kami belajar, sisa waktu kami habiskan untuk mengobrol. dia tetap belajar gitar sambil nyanyi, sengaja kuliat dia pas nyanyi, perasaan itu timbul lagi. aku membuka-buka buku yang dibawanya, tak sengaja aku melihat lirik lagu yang ia buat, dia puitis, dibalik keceriaannya tersimpan semangat membara yang di milikinya ketika ingin mencapai sesuatu, di buku itu banyak quote2 yang di buatnya. aku bertanya apa ini? dia menjawab ini hasil karyaku, setiap kata darinya membuatku semakin sayang sama dia, aku takut dia akan membenciku saat aku mengatakannya. dan aku berpikir pasti terlalu cepat. dia memamerkan suaranya yang lembut. Ya Allah apakah secepat ini?
jam 02.00
kami menyudahi bimbingan ini, kami mencari masjid untuk sholat, setelah itu aku mengajaknya makan bakso, dia suka bakso, sangat suka, setelah makan aku mengantarnya pulang, rasanya tak pernah ingin berpisah. apakah harus secepat ini aku menyayanginya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar